Komunikasi Lintas Budaya

4 min read

Apa sih komunikasi lintas budaya? Komunikasi yang melintasi budaya?

Komunikasi lintas budaya atau bisa di sebut cross cultural communication, merupakan studi komunikasi yang memandang manusia berbeda latar belakang budaya.

Studi komunikasi ini berawal dari studi antropologi budaya. Titik berat pada studi ini adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya.

Komunikasi lintas budaya juga bisa di sebut sebagai pintu gerbang untuk memahami komunikasi antar budaya intercultural communication.

Teori Komunikasi Lintas Budaya

Dalam komunikasi lintas budaya ada beberapa teori yang menjelaskan tentang komunikasi lintas budaya.

Berikut adalah teori komunikasi lintas budaya :

  • Face Negotiation Theory

Teori yang yang menyampaikan makna tertentu dengan bahasa atau ekspresi muka atau wajah. Dalam teori ini terdapat beberapa ekspresi yang bisa menyampaikan makna dengan ekspresi wajah :

Useful faces

– kebahagiaan

– Terkejut

– Ketakutan

– Kemarahan

– Kesedihan

– Kemuakan

– Pengecaman

– Minat

– Takjub

– Tekat

Wajah mengekspresikan komunikasi seperti senang dan tidak senang, tertarik atau tidak tertarik dan pengendalian diri dan juga kefahaman terhadap suatu pernyataan. Pesan Fasial ini yang di aplikasikan pada komunikasi lintas budaya.

Menurut teori face negotiation, norma dan budaya yang dianut manusia akan mempengaruhi cara mengelola situasi konflik dan membentuk citra pada mata publik.

  • Expectancy Violations Theory

Teori ini mencoba menguraikan tingkah laku manusia yang tidak terduga dalam berinteraksi.

Teori yang menitikberatkan budaya dan norma sebagai patokan dalam berkomunikasi dan jika salah satu pelanggaran terjadi pada norma yang di anut pada teori Expectancy Violations maka akan menimbulkan pandangan persepsi positif dan negatif.

Teori Expectancy Violations juga bergantung pada jarak dan ruang. Untuk mengungkapkan kedekatan antara manusia. Manusia cenderung untuk melindungi ruang dan jarak saat harapan mengalami pelanggaran.

  • Teori Akomodasi Komunikasi

Teori ini menitik beratkan strategi individu untuk mengurangi atau menambah jarak komunikasi yang bergantung pada norma dan budaya.

Teori ini menguraikan kecenderungan manusia untuk menyesuaikan perilaku saat berinteraksi. Interaksi ini adalah sebagai bentuk untuk mengontrol perbedaan sosial yang ada.

Pada teori ini mereka yang mengakomodasi kegiatan komunikasi untuk mendapatkan persetujuan dan menetapkan citra positif di depan orang lain. Lingkungan mereka berinteraksi juga mempengaruhi perilaku komunikasi.

Dalam proses akomodasi ini ada dua proses sebagai berikut :

– Konvergen, merupakan proses komunikasi yang cenderung untuk beradaptasi dengan karakteristik komunikasi orang lain untuk mengurangi perbedaan sosial.

– Divergen, merupakan proses individu menekankan pada berbedaan sosial dan nonverbal.

  • Conversational constraints theory

Teori ini di kembangkan oleh Min-Sun-Kin, teori ini ada untuk membantu menjelaskan perbedaan strategi percakapan oleh budaya dan dampak yang ditimbulkan oleh perbedaan.

Teori Conversational constraints merupakan teori yang memandang budaya mempengaruhi komunikasi.

  • Anxiety/Uncertainty Management Theory

Teori yang mengungkap bahwa individu akan merasa menjadi orang asing saat pertemuan antara dua budaya.

Tidak jarang dalam teori ini individu yang bersangkutan akan merasa cemas dan tidak pasti serta tidak nyaman.

Dalam teori ini akan menjadi tidak efektif karena rasa cemas dan tidak nyaman jika individu tidak dapat mengelola dan menangani rasa tidak nyaman dan tidak tenangnya.

Karakteristik Komunikasi Lintas Budaya

Beberapa karakteristik komunikasi lintas budaya adalah sebagai berikut :

  • Bersifat dinamis

Sifat dinamis ini adalah sifat yang kontinu dan berubah-ubah.

  • Interaktif

Sifat yang saling mempengaruhi.

  • Berlangsung dalam konteks fisik dan sosial.
  • Sosial.
  • Temporal.

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya

Hambatan komunikasi atau communication barrier merupakan segala hal yang menjadi hambatan atau penghalang terhadap terjadinya komunikasi.

Tidak di pungkiri bahwa sebenarnya perbedaan budaya adalah salah satu hambatan dari komunikasi itu sendiri.

Ada beberapa faktor komunikasi yang mempengaruhi komunikasi antar budaya, seperti fisik, budaya, persepsi, motivasi dan bahasa atau verbal dan non-verbal.

Berikut adalah penjelasan tentang beberapa faktor penghambat komunikasi antar budaya :

  • Fisik

Hambatan ini biasanya berasal dari waktu, lingkungan dan kebutuhan diri juga media.

  • Budaya

Hambatan ini berasal dari etnis, agama dan sosial yang berbeda antar budaya.

  • Persepsi

Hambatan yang timbul karena perbedaan persepsi, menyebabkan perbedaan dalam mengartikan atau memaknai sesuatu.

  • Motivasi

Berkaitan dengan rendahnya tingkat motivasi penerima pesan, menjadi sebab terhambatnya komunikasi.

  • Pengalaman

Hambatan yang di sebabkan oleh pengalaman yang dimiliki individu di masa lalu. Perbedaan pengalaman akan menjadikan individu memiliki perbedaan konsep dan persepsi terhadap sesuatu.

  • Emosi

Hambatan yang lainnya adalah emosi, rasa atau emosi yang dimiliki oleh pribadi masing-masing individu.

  • Bahasa

Hambatan yang biasa terjadi saat si pengirim pesan dan penerimanya menggunakan bahasa yang tidak di mengerti, oleh penerimanya. Hal ini bisa memicu ketidak samaan makna.

  • Non-Verbal

Hambatan ini biasa berupa isyarat, gesture.

  • Kompetisi

Ketika penerima pesan sedang melakukan sesuatu saat sedang menerima pesan.

Manfaat Komunikasi Lintas Budaya

berikut beberapa manfaat yang bisa kita dapat dari komunikasi lintas budaya :

  • Membantu pemahaman proses komunikasi lintas budaya.
  • Membantu pemahaman komunikasi antar budaya.
  • Membantu manajemen konflik.
  • Menyadari bahwa budaya yang kita miliki juga memiliki bias.
  • Membantu mengasah kepekaan kita.
  • Membantu pemahaman budaya lain.
  • Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.
  • Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.
  • Mempelajari dan meningkatkan keterampilan komunikasi lintas budaya.
  • Membantu memperkaya kemampuan berbahasa.
  • Membantu menghindari kesalahpahaman dengan orang lain.

Dimensi Komunikasi lintas Budaya

Ada 3 dimensi komunikasi lintas budaya yakni :

  • Tingkat masyarakat kelompok atau dari para partisipan budaya.
  • Konteks Sosial dimana tempat terjadinya komunikasi lintas budaya.
  • Saluran yang di lewati oleh pesan-pesan komunikasi lintas budaya baik secara verbal dan non-verbal.

Pada dimensi pertama sedikit menjelaskan bahwa kebudayaan digunakan untuk merujuk pada macam tingkat lingkup dan kompleksitas dari organisasi sosial.

Istilah kebudayaan sendiri memiliki beberapa pengertian sebagai berikut :

  • Kawasan-kawasan dunia : budaya timur, budaya barat
  • Sub kawasan-kawasan di dunia : budaya Amerika Utara, budaya Asia Tenggara.
  • Nasional/negara : budaya Indonesia,budaya Perancis, budaya Jepang.
  • Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negara : budaya orang Amerika Hitam,Budaya Amerika Asia, Budaya Cina-Indonesia.
  • Macam-macam sub kelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis kelamin, kelas sosial, coundercuklture (budaya Hippis, budaya orang di penjara,budaya gelandangan, budaya kemiskinan)

Pada dimensi pertama adalah dimensi yang berkomunikasi antara individu dengan kebudayaan nasional.

Dimensi kedua menyangkut konteks sosial, budaya, akulturasi imigran dan politik. Dalam dimensi ini bisa juga muncul kontekstual variasi contohnya adalah komunikasi antar orang berbeda negara dalam sebuah bisnis.

Atau bisa juga antara individu dengan kebudayaan ras etnik yang berbeda.

Pada dimensi lintas budaya yang ketiga ada adalah dimensi yang berhubungan dengan saluran. Pada dimensi ketiga ini berhubungan dengan saluran komunikasi yang secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu :

  • Antar pribadi
  • Media Masa

Dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga memengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari Komunikasi Lintas Budaya.

Contoh, orang Indonesia menonton melalui Youtube keadaan kehidupan di Amerika akan memiliki pengalaman yang berbeda dengan keadaan apabila dia sendiri berada di sana dan melihat dengan mata kepala sendiri.

Secara umum pengalaman komunikasi antarpribadi dianggap memberikan dampak yang lebih mendalam.

Komunikasi melalui media kurang dalam feedback langsung antarpartisan.

Oleh karena itu, pada pokoknya bersifat satu arah dan sebaliknya, saluran antarpribadi tidak dapat menyaingi kekuatan saluran media dalam mencapai jumlah besar manusia sekaligus bersifat antar budaya bila partisipannya berbeda latar belakang budayanya.

Tiga dimensi ini dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan,dalam mengklasifikasikan fenomena komunikasi antarbudaya khusus.

Contoh :

  • Dapat di gambarkan komunikasi antara Presiden Indonesia dengan Dubes baru dari Qatar sebagai komunikasi internasional atau antar pribadi dalam konteks politik.
  • Komunikasi antara pengacara AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS keturunan Puerto Rico sebagai komunikasi antarras/antaretnik dalam konteks bisnis.
  • Komunikasi imigran dari Asia di Australia sebagai komunikasi antaretnik, antar pribadi dan massa dalam konteks akulturasi.

Berikut adalah sedikit pengertian tentang Komunikasi Lintas Budaya.

Terimakasih sudah membaca dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: